Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

jelek

kayaknya selama hidup, beberapa kali hasil karyaku dibilang jelek.  udah susah-susah ikut lomba menggambar mewakili sekolah waktu SD, eh kepala sekolahnya bilang, ngapain ikut lomba, orang gambarnya jelek kok. padahal waktu itu aku mewakili kecamatan, dan di tingkat kabupaten aku masuk 8 besar. udah full effort bikin konten video di instagram kantor, eh dibilang, oh kasian, yang nonton sedikit, yang nge-like juga cuma orang-orang kantor, padahal yang jadi talent di video itu ada di depan mukanya.  pernah juga waktu kecil, aku pakai jilbab langsungan, dibilang, kamu itu kalo pakai jilbab itu gak pantes. bahasa jawanya "ora wangun". pernah juga udah aku udah bantuin edit foto untuk diupload di instagram kantor, eh dibilang, "kenapa begitu? tangannya terpotong?". Ya memang tangannya terpotong atau gak nampak di foto tersebut. tapi point-nya adalah, aku kan cuma "membantu", kenapa jadi dituntut sempurna. lagi pula yang ku upload itu pasfoto, ya yang penting wa...

Something yang Missed

Seiring bertambahnya usia, aku mengamati bahwa banyak orang dewasa yang terjebak dalam lingkaran setan, yakni dendam kepada manusia lain. Ini bisa bervariasi, mulai dari rasa tidak suka, tidak cocok, yang akhirnya semakin jauh berkembang menjadi dendam kesumat. Bahkan, seringkali rasa tidak suka/tidak cocok ini dimulai dari hal-hal sepele. Well, karena aku suka mengamati komen netizen di Instagram, perdebatan bisa seputar IRT vs working mom, sekolah negeri vs swasta, pembalut disposable dicuci dulu vs langsung dibuang. Netizen akan balas-balasan komen sampai panjang sekali. Bahasannya jadi ke mana-mana, semakin memanas, dan seringkali jadi keluar jalur. Dan, inilah fenomena baru yang menjamur kira-kira 3 tahun belakangan, yakni netizen semakin gencar menulis komen, kalimatnya semakin panjang. Pun platform media sosial seperti YouTube dan Instagram juga memfasilitasi hal ini dengan menyediakan kolom komen yang ukurannya semakin besar.   Lalu, menurutku jaman sekarang orang juga...

Avoidant Attachment Style

Berdasarkan perenungan sekian lama, sepertinya aku memiliki tipe attachment Avoidant Attachment Style. Ini lebih kepada bagaimana sikap kita saat berhubungan dengan orang lain.  Avoidant atau penghindaran, artinya orang dengan tipe attachment seperti ini cenderung menghindar dari orang lain pada situasi tertentu. Menurut Google, orang dengan tipe attachment ini menghindar saat hubungannya dengan orang lain semakin dekat / intim.  Aku sendiri misalnya, suatu ketika membeli bakso di sebuah warung. Karena rasanya enak, aku pun beberapa kali kembali ke warung itu untuk membeli bakso lagi. Katakanlah seminggu sekali aku beli bakso di warung itu.  Awalnya aku merasa nyaman di warung itu. Tapi, semuanya berubah ketika... Penjual baksonya mulai mengenali diriku. Mulai hafal wajahku. Dan penjual tersebut pun mulai tanya-tanya ke aku.  Sebenarnya biasa saja sih. Pertanyaan template. Kayak,  kuliah atau kerja di mana mbak? oh kerja, itu kantornya bergerak di bidang apa mba...