Postingan

Panitia Remidi

Gambar
Sumber gambar: unsplash Ada satu istilah lucu di zaman aku sekolah dulu, yakni panitia remidi .  Saat Ujian Akhir Semester (UAS) berakhir, nilai-nilai siswa dipajang di papan pengumuman. Siswa yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), harus ikut remidi. By the way , mengenai bentuk remidinya seperti apa, itu macem-macem. Ada yang disuruh mengerjakan ulang soal UAS, ada yang dikasih soal baru, ada juga yang disuruh bikin rangkuman. Tapi, mayoritas disuruh mengerjakan ulang soal UAS. Jawabannya ditulis di kertas folio bergaris. So , folio bergaris menjadi barang dagangan yang laris manis di koperasi sekolah. Nah, siswa yang hampir semua nilainya di bawah KKM sehingga harus ikut banyak remidi disebut panitia remidi.  Biasanya, di setiap kelas pasti ada aja murid yang ternobatkan sebagai panitia remidi karena sebegitu seringnya ikut remidi. Biasanya orang-orang sampai hafal siapa saja murid yang langganan remidi. Sampai-sampai, kalau tuh murid gak ikut remidi

Pengalaman Rebutan Paling Berkesan

Gambar
Sumber gambar: unsplash Berbicara mengenai rebutan, aku adalah orang yang sering kalah dalam hal rebutan. Entah karena orang-orang yang pada gercep atau aku aja yang terlalu lemot. Kalau menyangkut rebutan, aku angkat tangan.  Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, dalam hidup ini, kita akan sering berhadapan dengan yang namanya rebutan. Ada kalanya, kita harus ikut rebutan, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.  So, di sini aku mau curhat mengenai beberapa pengalaman rebutan yang...waktu menjalaninya sih sebel, tapi kalau dipikir-pikir, lucu juga:  1. Rebutan tempat duduk waktu ulangan harian zaman SMA.  Entah, ini hanya berlaku di SMA-ku atau berlaku juga di SMA lain. Jadi, di SMA-ku (lebih tepatnya kelasku) dulu, ada semacam peraturan tidak tertulis bahwa tempat duduk ter-ideal saat mengikuti ulangan harian adalah tempat duduk belakang.  Sementara itu, barang siapa yang waktu ulangan dapet tempat duduk depan, dianggap kena kutukan, hahaha. Alasannya? Simpel. Kalau

Lula dan Anak-anak Lainnya

Gambar
Sumber gambar: unsplash Postingan kali ini aku ikutkan dalam challenge 1M1C. Minggu ini adalah minggu tema, yang mana temanya adalah "congkak". Awalnya, tulisanku ini bukanlah bertema "congkak". Tapi, karena aku ingin ikut challenge ini, ya sudahlah ya, aku serempet-serempetkan dengan tema "congkak", lebih tepatnya, aku sisipkan saja kata "congkak" di tengah-tengah tulisan ini. Semoga, tulisan ini nyambung dengan tema "congkak". Kalau ternyata gak nyambung, yaaa disambung-sambungin aja deh.  ***  Namanya Lula. Dia adalah seorang anak perempuan kelas 2 SD yang satu tahun belakangan mengikuti les privat membaca di tempat ibuku --- pensiunan guru SD yang membuka les privat di rumah.  Satu hal yang patut diacungi jempol dari Lula adalah sifat tahan bantingnya.  Dia selalu datang tepat waktu, bahkan 5 menit sebelum les dimulai.  Fokus, mencurahkan perhatiannya pada apa yang sedang dipelajarinya.  Tidak mengeluh capek, walau dij

Ketakutan Konyol di Masa Kecil

Gambar
Sumber gambar: unsplash Aku lagi senang banget karena tadi malam, waktu internetan, aku search salah satu blog kesukaanku, yaitu blog-nya Kak Eno , ternyata sudah dibuka kembali. Aku pun membuka-buka postingan Kak Eno yang lama, dan aku menemukan tulisan Kak Eno tentang ketakutannya pada hal-hal berbau horor dan mistis.  Membaca postingan itu, aku jadi teringat ketakutanku di masa kecil, yang kalau dipikir-pikir sekarang, terkesan konyol dan gak masuk akal.  Oke, langsung aja yuk ke poin-poinnya. Jadi, inilah 4 ketakutan konyolku di masa kecil:  1. Takut gak naik kelas.  Kejadian ini terjadi waktu aku TK. Waktu itu, sedang masa liburan setelah penerimaan raport. Aku masih TK nol kecil yang sebentar lagi naik ke nol besar.  Suatu hari, aku menebalkan tulisan di raport menggunakan pulpen. Kalau ditanya motivasinya apa, gak ada sih, hehehe. Cuma pengin aja.  Selang sehari setelahnya, ibuku melihat bahwa tulisan di raportku aku tebalkan.  Ibu berkata, "Kalau kamu tebelin

Membakar Buku Diary

Gambar
Sumber gambar: unsplash Tiga hari lalu, aku membuat sebuah keputusan yang cukup besar: membakar buku diary. Sebetulnya, sudah sejak lama aku ingin melakukannya. Tapi, dulu masih maju mundur antara iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak, begitu terus.  Hingga akhirnya... tiga hari lalu, pada sore hari sebelum mandi, bulat sudah keputusanku untuk membakar buku diary.  Jadi, sore itu, aku mengendap-endap menuju kebun di belakang rumah. Kubakar buku diary-ku di situ, di antara tumpukan daun-daun kering. Aku lega sekali karena proses pembakaran berlangsung lancar. Tidak ada orang lain yang melihat. Sebab, kalau sampai aku ketangkap basah sedang membakar sesuatu, pasti aku bingung harus mengatakan apa. Ya kali aku bilang lagi bakar-bakar buku diary? Hehehe...  Kenapa sih, kok aku sampai berpikiran harus bakar diary-ku?  Jadi begini. Buku diary yang kubakar itu aku miliki sejak SMP. Dan sejak saat itu jugalah, diary tersebut aku isi beraneka ragam curhatan. Segala macam peristiwa d

Cerpen #2: Seragam Ibu

Gambar
Disclaimer: Cerita ini dibuat pada 21 Juli 2020. Maaf kalau jelek, masih pemula soalnya 😁 *** (Gambar hanya pemanis)  Orang-orang menyebutku "Sarjana Jalur Corona". Sudah 4 bulan aku menyandang gelar pengangguran intelektual. Telah selesai kewajibanku mengenyam pendidikan tinggi. Setelah 3 tahun 8 bulan berjibaku dalam dunia akademis, kini aku harus membuka mata lebar-lebar, menapakkan kaki di dunia nyata. Semula, kukira dengan ijazah di genggaman, masalah selesai. Rupanya, ini justru awal mula merebaknya masalah-masalah baru. Baru sekali bagiku.  Predikat alumni universitas favorit tidak cukup membantu. Selama 4 bulan ini, kuhabiskan hari dengan memelototi situs penyedia lowongan pekerjaan di internet. Di masa-masa ini, sedikit sekali perusahaan berlatar belakang sesuai disiplin ilmu jurusanku yang memasang iklan lowongan pekerjaan. Entahlah. Dua tahun lalu, nyaris semua dosen dan kakak tingkat mengatakan bahwa prospek kerja terbuka luas bagi alumni jurusanku. N

Awet

Gambar
Sumber gambar: Unsplash Aku adalah pecinta barang awet. Barang di sini artinya luas ya, bisa HP, laptop, motor, dll.  Rasanya puas aja kalau melihat barang yang sudah kugunakan selama sekian tahun masih layak, bahkan masih bagus.  Bukankah yang lebih menyenangkan itu kalau punya barang baru?  Betul, punya barang baru memang menyenangkan. Tapi, aku pribadi lebih puas dengan barang yang awet. Punya barang awet itu sensasinya beda. Rasanya, aku seperti sudah mencecap hingga sari-sarinya. Hingga tetes terakhir.  Kesukaanku akan barang awet sepertinya nurun dari ibu. Ibuku itu ya, kalau punya barang, diawet-awet banget. Ibu selalu merawat barangnya dengan telaten dan sepenuh hati. Hampir setiap malam, ibuku mengelap lalu menyemir tas kulitnya. Dan, ibu kalau nyemir tas, gak ada satu centi pun bagian tas yang terlewat. Alhasil tas kulit ibu selalu mengkilat dan awet hingga belasan tahun.  Begitu pula kalau ada barangnya yang rusak, ibu akan berusaha sekuat tenaga supaya barang it