Minggu, 11 April 2021

Nostalgia Lukisan Zaman SD

Tadi saya iseng buka-buka lemari di ruang tamu. Dan, surprisingly, saya menemukan lukisan-lukisan saya semasa SD.

Awal mula saya menekuni melukis sebagai hobi itu bermula dari ketidaksengajaan. Begini ceritanya. Suatu hari, masjid di dekat rumah diwajibkan mengirimkan peserta lomba menyanyi, pidato, melukis, dan lain-lain. Semua lomba sudah ada pesertanya. Tapi, untuk lomba melukis, belum ada pesertanya. Singkat cerita, saya (sebagai satu-satunya anak kecil yang tersisa), ditunjuk untuk ikut lomba melukis.

And then… saya dapat juara 2.

Saya pun melihat ini sebagai potensi yang sayang kalau gak dikembangkan. Dan dari situlah, saya mencari tempat les melukis dan sering ikut lomba lukis. Ibu sayalah yang selalu mengantar-jemput.

Saya benar-benar intensif banget ikut les dan lomba ini berlangsung selama 2 tahunan, tepatnya dari kelas 4 hingga 6.

Dulu, saya sering merengek kepada ibu, minta dibelikan crayon baru, padahal crayon lama masih ada. Alasannya, karena crayon lama udah ada yang patah. Selain itu, alasan lain adalah…pengin punya yang baru aja, sih. Hehehe, khas anak kecil banget, ya?

Hingga akhirnya, saya tamat SD, dan, aktivitas melukis ini saya tinggalkan begitu saja.

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak lagi melukis. Yang artinya, sudah lebih dari sepuluh tahun pula crayon-crayon di rumah saya tidak tersentuh.

Melukis, adalah hobi masa lalu saya. Walaupun pada akhirnya saya tidak menjadi pelukis, tapi, saya tidak menyesal pernah mempelajarinya. Belajar melukis bermanfaat buat saya, walaupun secara tidak langsung.

Ini adalah beberapa lukisan saya, yang masih tersisa. Sebenarnya, dulu, ada banyak yang lain, tapi, entah sudah hilang atau terselip ke mana.

Lukisan-lukisan ini khas anak SD banget. Gak jauh-jauh dari gunung, pepohonan, semak-semak, sawah, sungai, rumah, dan sejenisnya.

Beberapa lukisan ini saya buat ketika pelajaran SBK (Seni Budaya dan Kesenian). Jadi, jangan heran kalau ada tanda tangan guru atau nilainya, ya. Hehehe…

Oke, langsung saja, yuk, nostalgia melihat lukisan-lukisan saya semasa SD.

1. Rusa dan Pepohonan

2. Candi Prambanan

3. Memberi Makan

4. Membuat Angklung

5. Persahabatan

6. Cinta Tanaman

7. Suasana Desa

8. Memandang Bunga

9. Batik Motif Rumah

10. Jamur

11. Motif Ukir

12. Gambar Vignet

13. Bunga di Pekarangan

14. Motif Batik

15. Membaca

16. Ke Masjid

17. Cinta Budaya

18. Petani

19. Membuang Sampah

20. Bunga Matahari

21. Barbie

22. Desaku

23. Hari Ulang Tahun

24. Makan Buah-buahan

25. Bermain di Laut

26. Rumahku

27. Membersihkan Lingkungan

28. Gambar Stilasi

29. Motif Tumbuhan

30. Motif Binatang

31. Gambar Dekoratif Bercorak Tumbuhan

32. Buah dan Sayur

33. Batik Motif Kawung

34. Kucing

35. Kenthongan dan Kendhang

36. Kuda di Lapangan

37. Perspektif

38. Dua Silinder

39. Panorama

40. Pakaian Adat

41. Berdoa

42. Kolam Ikan

43. Kompleks Perumahan

44. Menyiram Bunga
Continue reading Nostalgia Lukisan Zaman SD

Selasa, 30 Maret 2021

Dear Kaum Rebahan Part #15: "To The Point Sajalah, Sebagai Kaum Rebahan Garis Keras, Aku Harus Bagaimana...?"

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 14

Berhasil atau tidaknya dari kecanduan rebahan ditentukan oleh tingkat kepatuhan kita terhadap kontrak kerja yang sudah kita buat sendiri. Jika kita mengingkari kesepakatan, selamanya kita akan tetap menjadi Kaum Rebahan. Selamanya, kita akan menjadi pemula walau sudah begitu banyak video tutorial untuk pemula yang kita tonton. Video tutorial itu tidak akan bekerja sendiri, kecuali kita mau mempraktekkannya.

Semua sudah ada hitungannya. Kalau usaha kita sama dengan orang lain, kita hanya akan menjadi orang kebanyakan. Jika usaha kita di bawah orang lain karena waktu hanya untuk rebahan, kita akan menjadi orang yang berada di bawah rata-rata. Jika tidak ingin jadi orang kebanyakan, maka usaha kita harus lebih besar dari orang lain, setidaknya dengan cara sedikit mengurangi porsi rebahan.

TAMAT

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #15: "To The Point Sajalah, Sebagai Kaum Rebahan Garis Keras, Aku Harus Bagaimana...?"

Dear Kaum Rebahan Part #14: "Bagaimana Cara Keluar dari Lingkaran Setan Ini?"

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 13

Mengubah kebiasaan rebahan berlebih akan mengundang kebiasaan baik lain. Namun, tidak serta-merta kita dapat langsung mengubah total. Langkah pertama, pasang timer setiap kita ingin rebahan, catat berapa waktunya. Ini menjelaskan kondisi real time rebahan kita. Langkah kedua, buat Kontrak Kerja Kaum Rebahan. Di dalamnya berisi batasan kapan dan berapa lama kita boleh rebahan. Dan kita, harus berusaha mematuhi kontrak yang sudah dibuat.

Tentu kita mengharapkan waktu rebahan lebih sebentar. Kita tidak bisa menghilangkan rebahan, tetapi hanya mengurangi dan mengubahnya. Jadi, sebagian waktu yang biasanya kita gunakan untuk rebahan, kita alokasikan ke aktivitas lain.

Untuk itu, kita perlu punya hobi sebagai pengalih perhatian. Namun, kita akan kembali ke rebahan jika kita menganggap bahwa rebahan lebih penting dari hobi. Oleh karena itu, kita perlu memprogram di otak bahwa melakukan hobi lebih berharga dari rebahan. Caranya, kita harus menetapkan tanda bahwa hobi kita benar-benar bekerja.

Misalnya, dengan menghargai kemajuan walau sedikit. Jika kemarin kertas kita masih kosong, sekarang kita bisa menulis walau hanya satu paragraf. Atau, jika kemarin kita belum bisa membuat masakan apa pun, sekarang kita sudah bisa mempraktekkan satu resep masakan. Jadi, kemajuan kita berkat melakukan hobi itu bisa terukur dan terlihat. Inilah yang akan memotivasi kita untuk lebih memilih mengembangkan hobi dibandingkan rebahan.

Baca selanjutnya: Part 15

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #14: "Bagaimana Cara Keluar dari Lingkaran Setan Ini?"

Dear Kaum Rebahan Part #13: Siapakah "Polisi" Kita?

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 12

Pukul 05.00 di hari Minggu, alarm-mu berdering. Rencananya, kau ingin mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan Senin pagi. Kau tak kunjung bangun. Alarm-mu terus kau tunda.

Sekarang, sudah 5 menit berlalu. Dan, alarm kembali berbunyi. Namun, kau masih tidur. Entah sudah berapa kali kau menunda-nunda alarm.

Ketika matamu terbuka sepenuhnya, jam sudah menunjukkan angka 09.00. Kau pun bangkit menuju meja belajar. Ingin mengerjakan tugas.

Baru 10 menit menatap layar laptop, kau sudah gagal fokus. Kau ambil handphone di samping laptop. “Lima menit aja main handphone, gak apa-apa lah, ya,” batinmu. Tapi, sosial media dengan segala daya tariknya, terlalu sayang untuk ditinggalkan.

Semula hanya membuka feed Instagram. Lalu, bergulir ke bagian explore, yang entah kenapa dipenuhi postingan nyaris seragam. Rupanya ada berita viral. Ada seorang artis yang sedang terkena kasus.

Berita viral itu menjadi trending topic di mana-mana. Dalam waktu singkat, akun sosial media artis yang bersangkutan diserbu komentar netizen. Ada yang menghujat, membela, bahkan menganggapnya setting-an belaka. Dan kau, terus membaca ribuan komentar itu, satu per satu.

Melihat pemberitaan itu dalam sekelebat saja kau sudah heran. Tapi, kau ketagihan. Kau ingin mengorek fakta yang lebih menggegerkan lagi, sambil bertanya-tanya, “Masak sih, si anu itu begitu?”

Tidak terasa, 2 jam sudah kauhabiskan waktumu untuk memelototi berita itu. Berlama-lama duduk di kursi, membuat punggungmu pegal. Maka, secara refleks, kau menuju kasur untuk rebahan.

“Aku mau dengerin satu lagu saja di YouTube,” batinmu.

Tapi, algoritma YouTube sangat cerdik. Mereka memahami kebiasaanmu dan keinginanmu. Di bawah video clip lagu yang sedang kau setel, ada banyak related video yang juga kau sukai. Kau tak mampu menahan gerakan jempolmu. Pada akhirnya, lagu yang kau putar tidak hanya 1, tapi 10.

Kau sangat betah rebahan sambil bergonta-ganti tontonan. Tak terasa, hari sudah larut malam. Tugasmu masih belum kausentuh, padahal, deadline-nya besok pagi.

Kau pun kembali membuka laptopmu. Baru kausadari bahwa tugasmu rumit dan banyak. Sebenarnya, kau diberi waktu selama seminggu untuk mengerjakannya. Tapi, kau baru akan menyentuhnya sekarang, kurang dari 1 hari menjelang deadline.

“Aduh, mana bisa selesai?” gerutumu sambil mengacak-acak rambut karena putus asa.

Maka, kau menggarap tugas seperti orang kesetanan. Segala kekuatan kaukerahkan. Tak ada lagi waktu untuk berleha-leha. Bahkan, kau rela begadang, tidak tidur semalam suntuk.

Tanpa terasa, azan Subuh sudah berkumandang. Tugasmu, masih ada yang kurang. Deadline mengumpulkan tugas tinggal 3 jam lagi. Sementara itu, matamu sudah lengket sebab selama semalam belum kaupicingkan walau sedetik. Kau terus berkutat dengan tugasmu.

Akhirnya, satu jam menjelang deadline pegumpulan, tugasmu selesai juga.

Pagi ini, tak ada hal lain yang kaupikirkan selain mengumpulkan tugas. Kau tidak mandi, hanya membasuh muka dan menggosok gigi sekenanya. Kau rela tidak sarapan, hanya minum segelas air putih dan mencomot sebuah roti tawar. Dan kau, salat Subuh saat matahari sudah terang benderang, dengan amat terburu-buru.

Tugasmu memang sudah selesai. Namun, jujur, kau merasa tak puas sebab tugasmu masih belum maksimal. Kau pun kapok, lalu berkata, “Aku ingin berubah,” lanjutmu, “next time, aku ingin nyicil mengerjakan tugas dari jauh hari, gak mau lagi mepet deadline.”

Tapi, penyesalan hanya datang pada hari itu. Setelahnya, kau kumat lagi. Kapok lagi. Begitu seterusnya.

Dan, akibat terbiasa begadang semalam suntuk, kau tak pernah bisa bangun pagi. Siklus hidupmu terbalik. Kau tidur di siang hingga sore, dan terjaga pada malam hingga pagi. Kau ingin hidup normal. Tapi, kau hanya ingin, tidak menindaklanjutinya.

Keresahanmu mendorongmu untuk mencari solusi di internet. Artikel “Cara Cepat Tertidur, “Cara Mengatasi Insomnia”, dan “Cara Agar Tidak Kecanduan Gadget” sudah kaubaca semua. Dan kau, tidak menemukan jawaban gamblang di dalamnya. Inti artikel-artikel itu hanya mengimbau agar kau bisa mengendalikan diri.

Sadarkah kau bahwa perihal rebahan ini unik?

Ketika mengikuti Masa Orientasi Siswa, kau berusaha mendapatkan benda-benda yang harus kaubawa, walaupun aneh dan sulit diperoleh. Sebab, ada Komisi Kedisiplinan yang akan menghukummu jika kau tak patuh.

Setelah menjadi siswa di sekolah tersebut, kau berusaha datang ke sekolah tepat waktu. Sebab jika terlambat, ada guru Bimbingan Konseling yang memberimu skors.

Lalu, saat mengendarai motor di jalan raya, kau berhenti ketika lampu merah menyala. Karena, ada polisi yang akan menilangmu jika kau melanggar.

Sayangnya, untuk masalah rebahan berlebihan, tidak ada pihak luar yang akan menghukummu. Kau punya peran ganda. Kau adalah pelaku rebahan, sekaligus “polisi” untuk dirimu sendiri.

Percuma saja kau membuat jadwal, menyetel alarm, dan memasang kata-kata motivasi di wallpaper handphone, jika kau tidak mematuhinya. Memang, masa-masa transisi menuju kebiasaan baru itu berat. Kau harus babak belur melawan godaan rebahan di kasur empuk. Tapi, setidaknya, kau hanya tersiksa saat itu, dan ringan setelahnya. Lebih berat mana, jika dibandingkan dengan akumulasi kegagalan yang harus kaupikul kelak di kemudian hari?

Baca selanjutnya: Part 14

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #13: Siapakah "Polisi" Kita?

Dear Kaum Rebahan Part #12: "Aku Ingin Fokus, Tapi Ada Saja Godaannya."

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 11

Kita hidup di zaman globalisasi, di mana seluruh dunia terhubung dengan siapa pun dan kapan pun.

Kadang, saat mengerjakan tugas, tangan kita terasa gatal, ingin membuka tab baru di internet untuk melihat sosial media.

Meja belajar ada di samping kasur, sehingga baru 10 menit belajar, sudah ingin rebahan saja.

Berbagai hiburan, berupa film, lagu, video, dan foto sudah sangat mudah diakses.

Akhirnya, kita susah memisah-misahkan ruang, waktu, dan aktivitas untuk santai dan untuk serius.

Baca selanjutnya: Part 13

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #12: "Aku Ingin Fokus, Tapi Ada Saja Godaannya."

Dear Kaum Rebahan Part #11: "Aku Mudah Bosan."

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 10

Untuk bisa menjadi ahli atau expert di suatu bidang, diperlukan pengulangan, melakukan hal yang sama lagi, lagi, dan lagi.

Orang sukses yang kita lihat, jangan dikira mereka melakukan semua hal sesukanya.

Para penyanyi itu, sudah ribuan kali membawakan lagu yang sama di atas panggung.

Bahkan, para YouTuber dengan subsriber jutaan punya jadwal kerja yang padatnya melebihi orang kantoran.

Semua butuh rutinitas.

Baca selanjutnya: Part 12

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #11: "Aku Mudah Bosan."

Dear Kaum Rebahan Part #10: Maukah Kita Selamanya Hanya Menjadi Konsumen?

Sumber: unsplash.com/@elizabethlies

Baca sebelumnya: Part 9

Orang sukses itu punya semangat kerja keras menciptakan handphone, internet, dan semua aplikasi.

Dan kita, punya waktu seharian untuk memakainya sembari rebahan?

Kita menjadi ahli sejarah dan ahli data, hafal kehidupan para public figure, baju apa yang mereka pakai, siapa pasangan mereka sekarang, dan ke mana mereka pergi.

Setiap ada berita viral, kita langsung gercep (gerak cepat) meramaikan, mengomentari, membicarakannya siang malam, tanpa peduli apa pengaruhnya untuk hidup kita.

Bahkan, kita lebih mengenal semua itu dibandingkan diri sendiri.

Baca selanjutnya: Part 11

Continue reading Dear Kaum Rebahan Part #10: Maukah Kita Selamanya Hanya Menjadi Konsumen?