Postingan

Alibi

Pada postingan blog kali ini, aku mau bernostalgia dengan tingkah laku ajaibku di masa kuliah. Dulu, aku adalah seorang mahasiswa yang amat penakut dan pemalu. Aku akan merasa takut dan malu untuk hal-hal yang sebenarnya sepele. Misalnya, saat ditunjuk oleh dosen untuk menjawab pertanyaan.   Di antara sekian banyak dosen, pasti ada dong yang hobi nunjuk mahasiswa. Tujuan si dosen itu macam-macam, tapi intinya cuma satu, yaitu ingin ngetes. Mulai dari ngetes seberapa mendalam pemahaman yang dimiliki mahasiswa, hingga ngetes seberapa kuat mental yang dimiliki mahasiswa. Nah, sebagai seorang mahasiswa penakut dan pemalu garis keras, tentu saja, dosen yang suka nunjuk mahasiswa bukanlah dosen favoritku. Aku lebih suka dosen yang jarang nunjuk mahasiswa. Semakin jarang seorang dosen nunjuk mahasiswa, maka semakin sukalah aku kepada dosen tersebut. Sayangnya, di setiap semester, pasti ada dosen yang suka nunjuk mahasiswa. Ada beberapa style dosen dalam menunjuk mahasiswa, yaitu:

Curhatan Seorang Pengangguran

Disclaimer: Tulisan ini membawa energi negatif.  Mei 2020 adalah bulan di mana aku wisuda. But, sampai saat ini, yang kalau dihitung-hitung sudah 19 bulan, aku masih menganggur.  Sudah sekian banyak lamaran pekerjaan yang aku sebar, baik itu di bidang yang sesuai jurusanku atau pun tidak, sejauh ini, semua berujung pada satu kata: Penolakan. Aku pun merutuki diriku sendiri.  Kenapa teman-temanku bisa dengan begitu mudahnya mendapat pekerjaan, sedangkan aku, belum ada satu pun yang nyantol.  Sebegitu gobloknya kah aku?  Aku merasa menjadi manusia yang hina.  Aku merasa masih jalan di tempat, di saat beberapa temanku sudah melesat jauh ke depan.  Aku merasa, saat ini kondisiku bagaikan remah-remah emping yang mulai melempem di dalam kaleng biskuit Monde. Kadang, aku berusaha menghibur diri sendiri, dengan mengatakan, "Yang sabar aja dulu..."  Tapi, bagian dari diriku yang lain mengatakan, "Sampai kapan?" Aku sudah pernah ikut sesi mentoring psikologi. Di situ, di hada

Perlu Perjuangan untuk Bisa Menghabiskan Skincare Hingga Tetes Terakhir

Oke, di postingan sebelumnya aku bersambat-sambat ria mengenai gak enaknya jadi pengangguran selama 1,5 tahun, kali ini aku mau sambat lagi. Sambat tentang apa, tuh? Sambat tentang sulitnya menghabiskan skincare hingga tetes terakhir. Seperti perempuan pada umumnya, aku juga punya skincare . But, aku tidak termasuk skincare addict . Aku punya skincare ya sekedar punya aja. Aku gak terlalu rajin dalam memakai skincare . Cenderung malas-malasan, malah.  Aku sudah khatam dengan semua teori per- skincare -an. Aku tau apa itu double cleansing , chemical toner , hydrating toner , moisturizer , sunscreen , dan sebagainya.  Aku juga tau bahwa di dunia ini ada yang namanya "7 Step Skincare Routine ", "10 Step Skincare Routine ", dan seterusnya. Udah hafal di luar kepala. Tapi, aku cuma ngerti teorinya. Prakteknya? Zonk. Aku pernah ada di masa, antusias banget ketika nonton video tutorial skincare di channel youtube Female Daily. Aku terkagum-kagum dengan kulit ki

Lagi Bingung Banget

Kali ini, aku cuma mau curhat. Ehm, lebih tepatnya mengeluh, ya. Bagi yang gak suka mendengar keluhan, silakan close postingan ini sekarang juga. Sudah 1,5 tahun aku jadi pengangguran. Aku gak tau, apakah aku masih pantas disebut fresh graduate . Kayaknya sih, kalau udah 1,5 tahun udah bukan fresh graduate lagi, tapi expired graduate .  Sumpah, aku lagi bingung banget. Aku beneran bingung harus melakukan apa lagi.  Aku malu, udah lulus kuliah tapi belum juga punya penghasilan.  Cari lowongan di internet, banyak yang:  - Lowongan abal-abal a.k.a penipuan, atau  - Ada syarat, minimal 3 tahun pengalaman kerja. Sekalinya ada yang buat fresh graduate , syaratnya adalah:  Ijazah asli ditahan. Ya gimana ya, aku gak mau sih kalau sampai ijazah asliku ditahan.  Iya ngerti, mungkin itu jadi salah satu cara bagi perusahaan supaya karyawan gak resign sesukanya. Tapi, aku secara pribadi gak berkenan, sih. Ya kalau entar ijazahnya aman dan dikembalikan, kalau ternyata ijazahnya gak dikembalik

Bapaknya Guru Matematika, Tapi Anaknya Tidak Pintar Matematika?

Kok bisa, bapaknya guru matematika, tapi anaknya, nilai matematikanya jelek? Bukankah seharusnya, karena mereka serumah, itu lebih gampang ya, untuk si bapak ngajari anaknya matematika? Bukankah, karena mereka adalah anak dan bapak, seharusnya, si anak bisa bebas, mau tanya tentang pelajaran matematika ke si bapak, kapan pun, sepuasnya? Itu yang ada di benak orang-orang, yang heran, kenapa bapaknya guru matematika, tapi anaknya tidak pintar matematika. Kenyataannya, adanya ikatan darah di antara mereka berdua—dalam hal ini adalah bapak dan anak—tidak selalu mempermudah proses belajar matematika di rumah. Adanya ikatan darah di antara mereka berdua, justru, kadang, membuat proses belajar menjadi kurang plong . Ketika si bapak berniat mengajari anaknya mata pelajaran matematika di rumah, yang ada di benak si anak adalah : Tidak percaya kalau orang yang ada di hadapannya a.k.a bapaknya itu betulan guru matematika. Si anak pun kurang antusias dan kurang memiliki rasa “takut”.

Ternyata, Datang Ke Kondangan Sendirian itu Tidak Apa-apa

Menurut penjelasan Dokter Aisah Dahlan, secara umum ada dua tipe manusia. Pertama, adalah manusia yang berorientasi tugas ( task oriented ), yang cirinya, lebih mengutamakan target-target dan tugas-tugas atau agenda-agenda yang harus dicapai. Kedua, adalah manusia yang berorientasi hubungan ( relationship oriented ), yang cirinya, lebih mengutamakan hubungan sosialisasinya dengan orang lain. Manusia yang berorientasi tugas, seringkali terlihat kurang luwes, terlalu saklek, dan terlalu fokus pada target. Sementara manusia yang berorientasi hubungan, seringkali mereka lebih fokus pada bagaimana caranya agar mereka bisa diterima di lingkungan pergaulan. Mereka pandai menjalin relasi dengan orang lain. Tapi kelemahannya, mereka sulit untuk mengatakan tidak, karena itu tadi, mereka takut kalau sampai tidak punya teman. Tentu saja setiap diri manusia tidak 100% murni task oriented atau pun relationship oriented . Tapi, ada yang lebih dominan. Nah, lalu, kalau aku sendiri, tipe yang

Anak-anak Muda yang Mungkin Saat Ini Sedang Menjadi Target Penipuan Online

Hai Blog, apa kabar? Sudah dua belas hari nih, aku tidak membuka blog. Niatnya sih mau vakum selama sebulan. Eh, tapi ternyata, baru dua belas hari, aku sudah kangen dengan aktivitas ngeblog. Jadi teman-teman, hari ini, aku mendengar sebuah kabar yang seketika membuatku lemas saat mendengarnya. Ada dua orang sepupuku yang menjadi korban penipuan online. What ? Kok bisa? Entahlah, aku juga kurang tahu kronologi lengkapnya seperti apa. Singkatnya begini. Dua orang sepupuku itu, mengikuti investasi secara online. Mereka tidak cerita ke siapa-siapa saat memulainya. Awalnya, investasi mereka baik-baik saja. Lama-kelamaan, investasi mereka rugi. Lalu, mereka disuruh untuk menjual investasinya. Dan, dengan dalih untuk menutupi kerugiannya, mereka berdua malah disuruh meminjam uang lewat aplikasi pinjaman online. Intinya, dua orang sepupuku itu, sudahlah tertipu investasi bodong, ditambah pinjaman online illegal pula. Yang membuat aku prihatin dan geleng-geleng kepala adalah… K