Senin, 28 Desember 2020

Aneka Mahzab dalam Dunia Kepenulisan

Mahzab, dalam hal ini artinya aliran, versi, slogan, dan pendapat yang dianut setiap penulis.

Sumber: unsplash.com/@neonbrand

Berdasarkan analisis cetek saya, ada beberapa mahzab yang dianut penulis.

Pertama, ada penulis yang berprinsip, kejarlah kuantitas dulu, urusan kualitas itu belakangan. Biasanya, dalam workshop kepenulisan, penulis jenis ini akan menyarankan kita untuk menulis minimal sekian ribu kata per hari. Tulislah apa pun. Lakukan secara konsisten. Penulis jenis ini berpendapat, bahwa kualitas akan membaik setelah kita rutin melakukan aktivitas menulis secara berulang-ulang.

Ada pula yang berprinsip sebaliknya. Yakni, untuk tahap awal, tulislah kalimat-kalimat yang singkat. Jangan berusaha memanjang-manjangkan kalimat agar tulisannya terkesan banyak. Biasanya, penulis jenis ini berprinsip, apalah artinya tulisan panjang kalau banyak pengulangan dan kalimat tidak efektif.

Kedua, setiap penulis punya kecocokan bentuk tulisan. Ada yang ahli menulis cerpen, seperti AS Laksana dan Bernard Batubara. Ada yang pandai menulis novel, seperti Andrea Hirata, Dewi Lestari, dan Tere Liye. Ada yang lihai menulis artikel, seperti Agus Mulyadi. Ada pula yang lincah membuat Quotes, seperti Rintik Sedu dan Marchella FP.

Ketiga, setiap penulis punya spesialisasi. Ada yang menulis tema hijrah di kalangan anak muda. Ada yang menulis self love dan mental health. Ada pula yang menulis tema percintaan. Dan, spesialisasi yang lain.

Apakah menulis perlu bakat?

Well, ini masih jadi perdebatan para ahli. Ada yang bilang perlu, ada yang bilang tidak. Kalau menurut saya secara pribadi, semua orang bisa menulis. Hanya saja, mereka yang berbakat akan lebih mudah, cepat, dan bagus dalam melakukannya. Sementara itu, orang yang tidak berbakat tetap bisa menulis, tapi butuh usaha yang lebih keras dan waktu yang lebih lama.

Saya percaya bakat itu ada. Bakat adalah kecerdasan ganda (multiple intelligent) yang dibawa manusia sejak lahir.

Nah, saya pernah menonton sebuah video ceramah ibu dr.  Aisah Dahlan, bahwa orang yang berbakat menulis, adalah orang yang punya kecerdasan linguistik serta kecerdasan intrapersonal tinggi. Mengenai definisi rinci kecerdasan linguistik dan kecerdasan intrapersonal, sila cari sendiri di Google.

Intinya, kecerdasan linguistik adalah kecerdasan berbahasa. Berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam merangkai kalimat dan menyampaikan gagasan. Ciri orang yang kecerdasan linguistiknya tinggi adalah suka membaca, menulis, dan bercerita.

Sementara itu, kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan untuk mengenali dirinya sendiri, memotivasi diri, mendisiplinkan diri, dan menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri. Intinya, kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sendiri. Ciri orang yang kecerdasan intrapersonalnya tinggi adalah suka menulis diary, suka menyendiri, mengevaluasi diri sendiri, dan mengkontemplasi perjalanan hidupnya sendiri.

Menurut saya, ini masuk akal sekali. Coba bayangkan, penulis novel itu. Kalau mereka tidak punya kecerdasan linguistik tinggi, ya, mereka akan susah merangkai kalimat dan menyampaikan gagasan. Bisa-bisa, yang mereka maksud itu A, eh, tapi, malah yang ditulis B.

Selain itu, kalau mereka tidak punya kecerdasan intrapersonal yang tinggi, ya, lagi nulis 10 halaman udah menyerah, akibatnya, novelnya gak jadi-jadi.

Bagaimana dengan saya?

Sejatinya, saya masih bingung bakat saya itu apa. Saya merasa gak pantas mengaku punya bakat menulis. Tapi, ya, gimana dong, habisnya, cuma menulislah yang bisa saya lakukan dengan sedikit lebih baik dibanding aktivitas lain (setidaknya menurut saya).

Nyanyi? Aduh, saya sadar diri sajalah, suara saya pas-pasan. Menggambar? Alah, saya cuma bisa nyontek gambar yang sudah ada, gak bisa kalau disuruh berkreasi. Olahraga? Boro-boro, lha wong waktu sekolah aja, saya selalu kalah ketika balapan lari keliling lapangan.

Lalu, mahzab menulis seperti apa yang saya anut?

Well, terus terang saja, mahzab saya masih mencla-mencle alias berubah-ubah. Saya pernah menganut mahzab, menulislah setiap hari minimal sekian ribu kata per hari, atau istilah nge-trend-nya, One Day One Post (ODOP). Kalau kalian lihat di blog ini, saya pernah melakukannya, dari tanggal 2 hingga 18 Desember. Saat itu, saya memaksa diri untuk menulis minimal 1000 kata per hari.

Eh, tapi, tiba-tiba, setelah itu, saya nge-blank. Kehabisan ide. Gak tahu apa lagi yang harus ditulis. Menulis yang awalnya untuk bersenang-senang, tapi gara-gara saya melakukannya setiap hari tanpa bolong-bolong, berubah jadi aktivitas menyiksa.

Akhirnya, saya berhenti menulis sejenak. Mungkin, mahzab ODOP tidak cocok untuk saya. Sejak saat itu, saya pindah haluan.

Kini, saya tidak lagi mewajibkan diri menulis setiap hari. Saya hanya akan menulis jika ada yang mau saya tulis. Mau 100 kata kek, 500 kata kek, tak apa-apa. Jika memang cukup dituliskan secara singkat, kenapa saya harus berusaha memanjang-manjangkannya? Kalau saya berusaha memanjang-manjangkan, yang ada, malah jadi bertele-tele dan tidak nyambung.

Terus, untuk jenis tulisan, saya belum nemu yang 100% cocok. Masih meraba-raba gitu. Saya pernah nulis cerpen, tapi, masih kesusahan. Saya juga pernah nih, pengin nulis Quotes ala-ala Instagram gitu. Tapi, kayaknya saya bukan orang yang ahli di bidang per-Quotes-an. Ya sudah, akhirnya, saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis. Ya, tulisan ini misalnya. BTW, tulisan ini termasuk apa ya? Ehm, kayaknya, artikel, tapi, artikel yang sangat tidak ilmiah karena kebanyakan “menurut saya”.