Kamis, 17 Desember 2020

Semua Foto Akan Terlihat Jadul pada Waktunya

Saya percaya, semua orang suka mengabadikan momen di hidupnya melalui foto. Lewat foto, kita bisa bernostalgia. Mengingat berbagai kejadian mengesankan di masa lalu. Saya suka mengamati perubahan yang terjadi di kehidupan ini melalui foto.

Sumber: unsplash.com/@sharegrid

Sesaat setelah foto diambil, foto itu terlihat waw. Tapi, seperti yang kita tahu, foto itu, lama-lama akan terlihat jadul. Apa saja isi foto-foto jadul itu?

Oke, langsung saja kita ke pembahasannya:

Sebagian besar anak-anak kelahiran 1990-an mempunyai gaya berfoto yang khas. Mereka biasanya pernah merasakan yang namanya berfoto di studio. Anak perempuan menggunakan rok terusan di bawah lutut serta rambutnya dikuncir dua.

Lalu, anak laki-laki memakai baju kemeja lengan pendek yang dimasukkan rapi, dalam celana sepanjang tiga per empat, serta rambutnya dibelah tengah.

Tak lupa, ibu mereka mengarahkan bagaimana mereka harus berekspresi di depan kamera. Seringkali, mereka tampak seperti dipaksa senyum.

***

Di zaman tahun 2008-2012, media sosial Facebook sedang naik daun. Nyaris semua orang memakainya. Kita berlomba-lomba meng-upload foto sebanyak mungkin. Saya masih ingat berbagai kebiasaan yang sangat nge-trend di FB kala itu:

Pertama, nama FB tidak menggunakan nama asli. Kita menggunakan nama gaul yang panjang, diselingi huruf X dan Z, serta huruf besar dan huruf kecil. Misalnya: Febrie Cyankx Dya Claloe, Laraz Chiendta Dhamaii, Febrian Slalou Berzabar, dst.

Kedua, ekspresi kita di foto profil adalah manyun-manyun atau miring-miring atau melet-melet atau mengacungkan 2 jari (peace).

Ketiga, kita menulis biodata, pernah bekerja di PT Mencari Cinta Sejati.

Keempat, kita membuat status setiap hari. Bahkan, dalam 1 hari, kita membuat banyak status.

Kelima, kita sering ditandai atau menandai banyak teman untuk foto yang di-upload, walau kadang gak ada hubungannya.

***

Melalui foto, kita juga bisa menyaksikan perubahan trend fashion dari waktu ke waktu.

Pada tahun 2011-2012, model hijab yang popular adalah hijab segi empat yang diputer-puter. Tak lupa, di kepala bagian belakangnya dipasang bross atau biasa disebut cepol, yaitu sejenis peniti berukuran besar yang disertai hiasan manik-manik berukuran panjang.

***

Lalu, pada kisaran tahun 2013-2015, tutorial hijab menjadi trend di YouTube. Saya masih ingat, ketika itu, tutorial make up masih kalah pamor dibandingkan tutorial hijab.

Salah satu Youtuber tutorial hijab yang hitz adalah Natasha Farani. Dia membagikan video berbagai macam seluk-beluk hijab. Jadi, ada banyak jenis kain hijab, ada kain paris, ceruti, wool, dll.

Selain itu, hijab ternyata bisa dikreasikan sedemikian rupa. Hijab bisa digulung, diputer, ditali, bahkan ditumpuk-tumpuk. Tapi, jenis hijab yang paling populer ketika itu adalah hijab paris. Mungkin karena mudah didapat dan harganya yang amat terjangkau menyebabkan siapa pun memakainya.

***

Tahun 2016, eksistensi hijab paris digantikan oleh hijab rawis. Mungkin karena hijab rawis ini lebih tebal, kaku, mudah dibentuk, dan tidak letoy jika tertiup angin sehingga siapa pun tertarik mencobanya.

Selain itu, mulai tahun 2016 ini, pamor video tutorial hijab di YouTube mulai turun. Tutorial make up menyalip. Mulai dari tutorial make up hanya dengan modal 200.000, tutorial make up remaja yang tidak menor, hingga tutorial make up wisuda, ada semua di YouTube.

***

Kemudian, pada tahun 2017, ada perubahan drastis dalam model kacamata. Sebelum tahun ini, orang-orang lebih suka memakai kacamata yang frame-nya tipis dan berbentuk kotak. Sementara itu, mulai tahun 2017 hingga sekarang, hampir semua orang menggunakan kacamata berbentuk bulat yang ukurannya besar dan menutupi sebagian permukaan pipi.

Entah kenapa, mulai tahun 2017 hingga sekarang, kacamata berbentuk kotak itu terlihat jadul banget. Yang pakai kacamata kotak sekarang ini biasanya para orang tua atau orang yang sudah berumur.

***

Lalu, mulai tahun 2018 hingga sekarang, para millennials punya gaya berpakaian yang sangat kentara. Mereka yang perempuan suka mengikat hijabnya ke belakang. Saya pernah mencoba model hijab seperti ini. Tapi, kok rasanya panas banget, ya? Rasanya, leher seperti terpenjara. Sehingga, saya copot ikatan hijabnya dan saya balik ke style hijab semula.

Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, pada tahun 2018 hingga sekarang, anak muda kekinian itu lebih suka warna pakaian yang netral dan kalem. Intinya, millennials zaman now lebih suka pakaian polos berwarna monokrom atau warna pastel.

Jarang sekali yang warna bajunya warna-warni seperti pelangi. Saya pun juga mengikuti trend ini. Dua tahun belakangan, saya pakai hijab yang warnanya itu-itu saja. Hijab warna hitam, coklat tua, biru dongker, abu-abu, krem, selalu saya pakai-cuci-jemur-pakai lagi. Entah kenapa, saya merasa warna-warna netral seperti ini lebih multifungsi. Cocok dipadupadankan dengan baju apa pun.

***

Selalu ada cerita di balik sebuah foto. Hanya dengan melihatnya, pikiran kita bisa menerawang jauh ke belakang, merangkai kejadian demi kejadian di balik foto itu. Biasanya juga ada peristiwa penting yang membersamai sebuah foto.

Misalnya, sebuah foto kita mengenakan masker, yang kita potret baru-baru ini. Mungkin, 10 atau 15 tahun mendatang, kita tidak hanya melihat masker di foto itu, tetapi juga melihat peristiwa yang menggegerkan dunia bernama Corona.

Semua foto akan terlihat jadul pada waktunya. Foto yang kita ambil tahun 2000, terlihat sangat modern pada saat itu. Namun, terlihat kuno jika kita lihat sekarang. Jangankan foto tahun 2000. Foto tahun 2015 saja, sudah kita anggap jadul di tahun 2020 ini, kan?

Dan, biasanya, ada rasa malu ketika kita melihat foto-foto atau status-status jadul. Ketika kita membuka akun FB, dan kita mendapati fakta bahwa kita pernah mengupload foto yang menurut kita sekarang terlalu alay, kita akan sangat malu. Kita berharap, sekarang, jangan sampai ada orang lain yang melihatnya.

Status juga demikian. Jika kita iseng nge-scroll status FB kita zaman dulu, kita juga akan malu. Kita menulis status yang isinya mengeluh, curhat, bahkan misuh-misuh atau berkata kasar. Kita heran, “Kok aku dulu nulis status kayak gitu, ya? Itu beneran aku atau bukan, sih?”

Maka, zaman sekarang, sudah banyak orang yang mem-private akun FB-nya. Ada juga yang menghapus semua foto dan statusnya. Bahkan, ada juga yang men-delete permanen akun FB-nya.

***

Rasa malu atas hal yang pernah kita lakukan di masa lalu itu ada bagusnya. Artinya, kita sudah berubah menjadi lebih baik. Kita tahu, bahwa apa yang kita lakukan di masa lalu itu buruk atau tidak pantas dipertontonkan atau setidaknya masih perlu diperbaiki.

Namun, walaupun kita malu melihat foto kita zaman dulu, bukan berarti kita harus menghapus atau membakarnya semua, kan?

Menurut saya, justru, kita perlu menyisakan beberapa foto di setiap zaman. Kalau perlu, minimal kita punya satu foto di setiap tahun. Setidaknya, melalui foto-foto itu, kita bisa melihat perubahan pada diri kita. Setidaknya, kita punya tontonan. Setidaknya, kita bisa bercerita pada anak cucu nanti, “Aku dulu pernah begini, lho.”

Entahlah. Mungkinkah 10 atau 15 tahun mendatang, saya akan malu melihat tulisan-tulisan saya sendiri di blog ini?

2 komentar:

  1. PT MENCARI CINTA SEJATI, wkwkwkwkkw saya ketawa baca bagian itu . Tapi emang bener zaman fb dulu sering banget pakek nama tuh PT

    BalasHapus
  2. Tulisan ini bikin senyum-senyum sendiri
    Buka-buka album foto lama serasa memanggil kenangan deh
    Tapi memang benar, semua akan jadul pada waktunya haha

    BalasHapus