Senin, 14 Desember 2020

Kok Kamu Betah di Rumah Terus?

Saya sering ditanyai, "Kok kamu betah di rumah terus?"

Jika sudah begini, saya jawab, "Iya, aku lebih suka di dalam rumah aja."

Sumber: unsplash.com/@kellysikkema

Tapi, seringkali, si penanya masih belum puas. Terlihat dari ekspresi heran mereka. Dan saya hanya tersenyum irit, karena malas meladeni dan "berdebat" panjang lebar.

Dari kecil hingga dewasa, saya memang sangat menikmati momen-momen di rumah. Saya sangat betah berlama-lama di rumah. Jarang keluar, kecuali untuk urusan beli bensin, pulsa, dan sembako.

Saya sempat bertanya-tanya, "Apakah ada yang salah denganku?"

Sebab, mayoritas orang yang saya kenal, lebih suka keluar rumah. Bahkan, mereka terkesan tidak kerasan tinggal di rumah. Sedangkan saya? Berkebalikan dari mereka. Saya pun waswas, jangan-jangan, saya mengidap kelainan. Sebab saya tampak beda sendiri.

*** 

Ketika tahun baru misalnya, saya selalu di rumah saja. Percaya atau tidak, saya belum pernah main mercon atau kembang api, lho. Untuk tahun baruan, saat masih TK, saya hanya pernah minta dibelikan terompet saat belanja sayur di pasar bersama ayah.

Tahun baru, identik dengan pengalaman baru. Biasanya, orang melakukan serangkaian ritual bersama keluarganya. Waktu kelas 1 SMA, saya pernah disuruh menceritakan pengalaman tahun baru di depan kelas pada mata pelajaran Bahasa Inggris.

Semua murid menjelaskan pengalaman serunya dengan penuh semangat. Ada yang pergi ke objek wisata, main kembang api, bakar jagung, dan sederet cerita unik lainnya. 

Sedangkan saya?

Saya menceritakan pengalaman tahun baru dengan apa adanya. Jadi, waktu tahun baru, saya hanya nonton televisi. Itu saja. Tidak ada agenda lain. Saya juga mengatakan bahwa, saya tidak tahu apa yang terjadi di luar. Karena memang, saya cuma di rumah. Palingan, saya cuma mendengar bunyi kembang api atau mercon yang dimainkan oleh anak-anak kecil sekitar rumah.

Dan, teman sekelas tertawa mendengar omongan saya itu. Mungkin, baru sekali ini mereka ketemu makhluk aneh macam saya.

Entahlah. Memang begitulah keluarga saya. Ayah, ibu, kakak, dan saya pribadi, tidak pernah merayakan tahun baru.

Terus terang, dulu, saya merasa bersalah lho, gara-gara hanya tahun baruan di rumah. Tapi, seiring bertambahnya umur, saya jadi biasa saja menyikapi ini. Saya tahu apa yang saya inginkan dan butuhkan.

*** 

Saya sudah pernah berusaha mencintai kegiatan di luar rumah. Berbagai objek wisata, baik itu pantai, museum, hingga taman, sudah saya datangi. Namun, ketika sampai di lokasi itu, saya agak kecewa. Saya membatin, "Kok cuma kaya gitu?"

Objek-objek wisata tersebut tidak sesuai ekspektasi saya. Ujung-ujungnya, baru beberapa menit jalan-jalan di situ, saya sudah ingin pulang saja.

Begitulah saya. Saat sedang di rumah, membayangkan kegiatan di luar. Tapi, saat di luar, saya ingin cepat-cepat pulang.

*** 

Saking cintanya saya pada rumah, saat kuliah, saya tidak mau ngekos walau jarak rumah-kampus sekitar 20 km. Ada beberapa orang yang prihatin atau kasihan melihat saya. 

Mereka bilang, "Kamu gak mau ngekos aja? Aku kasihan liatnya. Tiap hari kamu bolak-balik rumah-kampus, total 40 km. Belum lagi, kalau ada hujan. Atau kalau jadwal kuliahmu ada jeda lama. Misal, kamu kuliah jam 07.00-09.00, lalu, kosong, dan baru ada kuliah lagi jam 13.00. Antara jam 09.00-13.00 kamu mau ngapain? Pulang ke rumahmu? Tanggung, lah. Nunggu di kampus? Capek, lah."

Omongan tersebut memang benar adanya. Jujur, itulah salah satu keresahan saya sebagai mahasiswa penglaju. Jeda jadwal kuliah yang tanggung itu, cukup memusingkan saya. Akhirnya, ya, saya harus menjalaninya. Jadi, kalau ada jeda kosong 4 jam begitu, saya ke perpustakaan. Kalau bosan, saya pindah ke mushola. Kalau bosan lagi, saya pindah ke ruang kelas kosong. Dan, kalau masih bosan juga, saya akan pergi ke supermarket terdekat. Melihat-lihat baju. Walaupun, saya gak akan beli. Begitulah cara saya membunuh rasa bosan.

Kenapa saya tidak ke ruang sekre jurusan atau sekre BEM?

Karena, saya lebih suka tempat sepi. Dan, ruang sekre mahasiswa biasanya cukup ramai.

Kenapa saya tidak ke kost teman?

Saya pernah ke kost teman. Tapi, hanya sesekali. Itu pun, kalau memang ada keperluan mendesak, yang mengharuskan saya ke situ. Misalnya, tugas kelompok.

Saya gak mau sering-sering ke kost teman. Soalnya, saya takut mengganggu. Bagaimana pun juga, kan, orang yang ngekos itu butuh privasi.

Kesendirian saya cukup mengusik perhatian teman-teman sejurusan. Seringkali, saat mereka bergerombol ke kantin, dan saya hanya sendiri, mereka bertanya, "Kok kamu sendirian aja?"

Dan, mereka bertanya seperti itu sambil menatap saya prihatin, lho. Mungkin, mereka kasihan pada saya. Padahal, kenapa harus dikasihani? Saya ke mana-mana sendiri, karena memang ingin. Saya merasa biasa saja dengan kesendirian. Saya melakukannya dengan sukarela, atas inisiatif sendiri. Tapi, rupanya bagi banyak orang, kesendirian itu aneh. Kesendirian itu tidak lazim.

*** 

Saking jarangnya keluar rumah, sekalinya keluar, orangtua saya heran. Mereka pasti tanya dengan tatapan penuh selidik, "Kamu mau ke mana?"

Dan, jawaban saya begini, "Tahu sendiri kan, Bu. Aku itu kalau keluar rumah, pasti antara beli bensin, pulsa, kuota, atau jajanan."

Terkadang, saat baru memakai jaket, memakai helm, dan mengeluarkan motor dari garasi, saya sudah mengantisipasi kekepoan Ibu dengan berkata, "Ibu pengin tanya, aku mau pergi ke mana, kan? Aku cuma mau beli es krim di Alfamart."

Saat saya masih kuliah, selain selalu ingin tahu saya mau ke mana, orangtua saya juga gencar menelepon jika sampai maghrib, saya belum juga sampai rumah.

Dan, saya lebih sering tidak mengangkat telepon itu. Gara-gara jarang mengangkat telepon, saat saya sampai rumah, orangtua saya sering marah. 

Saya cuma menjawab, "Kalau gak mengangkat telepon, berarti aku lagi sibuk, atau baterainya mau habis, atau lagi di perjalanan."

Orangtua saya tetap tidak terima. Mereka tetap mewajibkan saya mengangkat telepon, apa pun yang terjadi.

Terkadang, saya merasa risih diperlakukan begitu. Saya ingin seperti anak kuliahan pada umumnya, yang dibebaskan oleh orangtuanya. 

Tapi, kalau diresapi lagi, seharusnya, saya bersyukur punya orangtua yang punya kepedulian besar.

*** 

Kalau ada orang yang menganggap saya aneh karena lebih suka di dalam rumah, saya juga menganggap orang yang tidak betah di rumah itu aneh.

Kalau ada yang tanya, "Kok kamu betah di rumah terus?"

Terus saya harus bagaimana?

Masak saya harus jawab, "Kok kamu gak betah di rumah?"

Gitu?

Kalau ada orang yang tanya, "Kok kamu sendirian aja?"

Saya juga harus bagaimana?

Saya bukanlah orang pemberani, yang berani menjawab dengan tegas setiap pertanyaan yang ada. Rasa sungkan, rasa takut salah, rasa takut di-judge, dan rasa takut memicu permusuhan yang saya miliki lebih mendominasi. Jadi, saya hanya akan mendiamkan pertanyaan-pertanyaan macam itu.

Sebenarnya, lebih suka di rumah atau keluar, dan lebih suka sendiri atau bergerombol, itu kan, hanyalah  masalah preferensi.

Buat saya, di dalam rumah itu menyenangkan, sementara buat orang lain membosankan.

Kesunyian adalah hal yang saya cari, sementara orang lain malah menghindarinya.

Jadi, buat apa saya berusaha menjelaskan panjang lebar, kalau saya sudah tahu, bahwa dari awal, pandangan saya berlainan dengan pandangan orang lain? 

Apa pun penjelasan saya, tidak akan memuaskan orang lain.

Seperti halnya debat calon presiden.

Tidak ada habisnya.