Minggu, 06 Desember 2020

Sibuk Latah

Setiap waktu, trend bergulir. Bergulirnya trend itu layaknya pergerakan roda, yakni terus memutar. Sesuatu yang dulu menjadi trend, beberapa waktu kemudian akan tenggelam, lalu sekarang kembali naik daun. Dan manusia, pada dasarnya sibuk latah terhadap trend atau sesuatu yang viral.

Sumber: https://member.1minggu1cerita.id/assets/images/tema/sibuk.png

Ya, kita sangat menginginkan apa yang sedang kita tonton. Kita akan penasaran, membicarakannya siang malam, hingga lama-kelamaan ikut membeli atau melakukan trend.

Mulai dari trend Gelombang Cinta, batu akik, hingga berkebun yang booming akhir-akhir ini, selalu menggelitik perhatian kita.

Kalau dilihat, fenomena trend polanya sama. Dimulai dengan media yang sibuk. Entah bagaimana caranya, benda atau kegiatan yang sedang diberitakan itu tampak menarik. Lalu, semua orang ingin memiliki. Dan akhirnya, barang tersebut dijual dengan harga melambung. Sejak itulah, ternobatkan sebagai barang yang lagi nge-trend.

Menurut saya, keinginan tiba-tiba meningkat karena kita terus-menerus terpapar informasi. Iklan atau postingan sosial media tiba-tiba lewat di beranda. Kita tidak dengan sengaja mencarinya, namun informasi mengenai produk yang sedang nge-trend itu tanpa permisi membombardir kita. Lama-lama, pertahanan kita runtuh. Kita pun ikut arus trend.

***

Saya pernah beberapa kali termakan bujuk rayu postingan sosial media.

Saat duduk di bangku SMA misalnya, saya insecure dengan tinggi badan yang pas-pasan dan berkeinginan menambahnya. Saya cari “Cara Menambah Tinggi Badan” di internet. Ketemulah satu blog yang berisi Susu Penambah Tinggi Badan. Didorong rasa penasaran, saya pun membuka nyaris semua ulasan produk itu. Dan pada akhirnya, saya beli produk tersebut karena sudah ngebet banget ingin tinggi.

Kelatahan saya berlanjut hingga kuliah. Saat itu, saya lagi ngidam nonton videonya seorang Youtuber perempuan. Saya ngefans dengannya. Dan saya, lama-kelamaan ingin meniru apa yang dia pakai.

Suatu ketika, dia me-review sebuah hijab produk online shop. Dalam video itu, hijabnya tampak bagus sekali. Dari segi warna, bahan, dan ukuran tampak sangat menarik. Sejak saat itu, saya sibuk scrolling postingan Instagram brand hijab tersebut. Setelah sibuk memelototi katalog produknya siang malam, saya termakan juga, dan lagi-lagi, saya langsung membeli beberapa hijab sekaligus.

***

Tidak ada yang salah dengan kelatahan terhadap trend. Namun, berdasarkan pengamatan saya, pada akhirnya semua akan mengalami seleksi alam.

Sebuah barang atau kegiatan yang lagi nge-trend, memang tampak lebih menarik dibanding saat tidak nge-trend. Dua barang yang sama, akan melahirkan citra dan kesan yang berbeda di mata kita, dalam waktu yang berbeda.

Batu akik misalnya, sebelum viral, orang memandangnya biasa-biasa saja. Batu akik yang sama, menjadi  amat menarik ketika lagi viral. Setelah keviralannya usai dan pemberitaannya tidak terlalu intens, batu akik tersebut kembali tampak biasa.

Kita tidak waras 100% ketika memandang sebuah benda viral. Saya tidak tahu, benda-benda yang lagi nge-trend dan diberitakan harganya mahal sekali (terkadang tidak masuk akal) itu betul-betul begitu atau tidak. Saya curiga, jangan-jangan, itu semua hanya ulah oknum yang sengaja melebih-lebihkan, dan tujuannya memprovokasi kita agar ikut membeli? Sebagaimana kita tahu, bahwa manusia, terkadang malah tertantang membeli suatu benda yang mahal. Bukan fungsi yang kita cari, melainkan rasa bangga, puas, dan prestise karena bisa membeli benda mahal.

Begitu pula dengan saya. Ketika lagi insecure dengan tinggi badan, saya ingin bisa menambah tinggi badan secara cepat. Dan karena lagi ngebet, saya mempercayai semua review dan testimoni pembeli yang mengatakan bahwa susu peninggi badan tersebut benar-benar bisa menambah tinggi badan.

Namun, setelah insecurity berkurang kadarnya, saya bisa berpikir jernih. Mana ada susu yang bisa menjamin bertambahnya tinggi badan? Kalau ada, kok, gampang sekali. Kalau betul-betul worth it, harusnya semua orang bisa tinggi, dong. Tapi kenyataannya, kan, tidak. Karena, memang yang namanya menambah tinggi badan tidak semudah itu.

Pun dengan hijab. Dulu saya sangat mengelu-elukan hijab tersebut. Sederet klaimnya, kini tampak tidak seistimewa itu. Setelah membandingkannya dengan hijab yang ada di toko terdekat, saya sadar, bahwa kualitasnya tidak beda jauh dengan hijab yang saya beli di online shop dulu itu. Sebagai manusia ekonomis, saya lebih memilih beli hijab di toko terdekat saja, toh kualitasnya sama-sama bagus namun harganya jauh lebih murah.

Begitulah. Semua akan terseleksi secara alami. Kita punya value, prinsip, dan kebutuhan. Kita akan berusaha mengambil keputusan yang cocok. Trend itu tadi, jika ternyata tidak selaras dengan diri kita, akan kita tinggalkan begitu saja.

***

Seberapa tahan lama melekatnya suatu trend juga dipengaruhi oleh bakat dan tipe kepribadian kita.

Sejak pendemi, semua orang sibuk bercocok tanam. Orang yang dulunya tidak suka tanaman, mendadak ikut suka. Orang yang dulu di rumahnya tidak ada tanaman hias, medadak memborong beraneka tanaman hias.

Namun, semuanya kembali ke diri sendiri. Bercocok tanam itu perlu ketelatenan, ketekunan, dan kedisiplinan. Orang yang memang berbakat di bidang tanaman, dan dirinya suka merawat tanaman, akan tetap terus bercocok tanam. Tak peduli sekarang lagi trend atau tidak. Bahkan, jika sebentar lagi orang lain tidak suka bercocok tanam, mereka tidak terpengaruh. Mereka tetap sepenuh hati merawat tanamannya.

Sebaliknya, orang yang hanya ikut-ikutan, biasanya tidak bertahan lama. Iya, orang tersebut suka tanaman. Tapi, cuma suka melihat. Tidak suka merawat. Tidak telaten kalau harus menyiram, memberi pupuk, dan mengontrol 2 kali sehari kalau-kalau ada ulat yang nempel.

Orang yang hanya ikut-ikutan, tidak akan tahan guncangan. Jika trend-nya sudah surut, dia ikut berhenti. Seperti dalam hal tanaman hias itu. Setelah trend-nya usai, dia tidak akan melanjutkan aktivitas bercocok tanam.

***

Ada sebuah cerita. Sebut saja si A, adalah seseorang yang suka merawat tanaman hias dan punya banyak tanaman hias. Dia punya tetangga, sebut saja si B, adalah orang yang baru-baru saja tertarik tanaman hias.

Si B datang ke rumah si A. Melihat banyak tanaman hias yang cantik, si B tertarik. Si B pun bilang pada si A, ingin meminta satu. Si A memperbolehkan. Jadilah si B pulang ke rumahnya membawa satu pot tanaman hias.

Namun, tanaman hias yang dibawa pulang si B hanya teronggok. Si B tidak telaten merawatnya. Akibatnya, tanaman hias itu mati begitu saja.

Sementara itu, dengan jenis tanaman yang sama, tanaman milik si A masih hidup dengan subur. Si A telaten merawatnya setiap hari.

Kita bisa melihat perbedaan keduanya. Si B, hanya sibuk latah mengikuti trend yang ada. Tanpa menimbang lebih jauh, apakah dia memang benar-benar suka, sanggup, dan passionate merawat tanaman hias.

Sementara itu, si A, bercocok tanam karena memang suka, sanggup, dan passionate melakukannya.

Tidak ada yang protagonis dan antagonis antara si A dan si B. Kita menjadi si B terlebih dahulu, untuk mengeksplorasi dan mencoba berbagai hal. Setelah beberapa kali, perlahan-lahan kita bisa menjadi orang seperti si A. Tidak sibuk latah, tetapi sibuk melangkah secara terarah.