Postingan

Menampilkan postingan dengan label Galau

Curhatan Seorang Pengangguran

Disclaimer: Tulisan ini membawa energi negatif.  Mei 2020 adalah bulan di mana aku wisuda. But, sampai saat ini, yang kalau dihitung-hitung sudah 19 bulan, aku masih menganggur.  Sudah sekian banyak lamaran pekerjaan yang aku sebar, baik itu di bidang yang sesuai jurusanku atau pun tidak, sejauh ini, semua berujung pada satu kata: Penolakan. Aku pun merutuki diriku sendiri.  Kenapa teman-temanku bisa dengan begitu mudahnya mendapat pekerjaan, sedangkan aku, belum ada satu pun yang nyantol.  Sebegitu gobloknya kah aku?  Aku merasa menjadi manusia yang hina.  Aku merasa masih jalan di tempat, di saat beberapa temanku sudah melesat jauh ke depan.  Aku merasa, saat ini kondisiku bagaikan remah-remah emping yang mulai melempem di dalam kaleng biskuit Monde. Kadang, aku berusaha menghibur diri sendiri, dengan mengatakan, "Yang sabar aja dulu..."  Tapi, bagian dari diriku yang lain mengatakan, "Sampai kapan?" Aku sudah pernah ikut sesi mentoring psikologi. Di situ, di hada

Anak-anak Muda yang Mungkin Saat Ini Sedang Menjadi Target Penipuan Online

Hai Blog, apa kabar? Sudah dua belas hari nih, aku tidak membuka blog. Niatnya sih mau vakum selama sebulan. Eh, tapi ternyata, baru dua belas hari, aku sudah kangen dengan aktivitas ngeblog. Jadi teman-teman, hari ini, aku mendengar sebuah kabar yang seketika membuatku lemas saat mendengarnya. Ada dua orang sepupuku yang menjadi korban penipuan online. What ? Kok bisa? Entahlah, aku juga kurang tahu kronologi lengkapnya seperti apa. Singkatnya begini. Dua orang sepupuku itu, mengikuti investasi secara online. Mereka tidak cerita ke siapa-siapa saat memulainya. Awalnya, investasi mereka baik-baik saja. Lama-kelamaan, investasi mereka rugi. Lalu, mereka disuruh untuk menjual investasinya. Dan, dengan dalih untuk menutupi kerugiannya, mereka berdua malah disuruh meminjam uang lewat aplikasi pinjaman online. Intinya, dua orang sepupuku itu, sudahlah tertipu investasi bodong, ditambah pinjaman online illegal pula. Yang membuat aku prihatin dan geleng-geleng kepala adalah… K

Susah Spontan

Salah satu kelemahanku adalah susah spontan .  Ketika harus spontan, bisa-bisa, aku panik duluan. Dan kalau udah panik, kacaulah semua yang udah aku persiapkan. Jaman sekolah misalnya.  Generasiku termasuk yang dapet Kurikulum 2013. Salah satu pembeda Kurikulum 2013 dibanding kurikulum sebelumnya adalah siswa harus lebih aktif.  Jadi, kalau di kurikulum sebelumnya, siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru. Di Kurikulum 2013, siswa lebih banyak presentasi di depan kelas.  Yang namanya presentasi, saat itu, adalah hal yang kurang aku sukai. Kenapa?  Ada presentasi yang diadakan saat itu juga.  Jadi, guru bilang, "Yak, saya beri kalian waktu 10 menit. Silahkan bentuk kelompok beranggotakan 4 orang. Kemudian kalian presentasikan materi pelajaran (kita sebut saja) ABC di depan kelas."  Itu yaaa, dulu aku zebelll beud kalau disuruh presentasi dadakan gitu. Soalnya, yah itu tadi, aku susah spontan.  Di saat itu aku merasa, bahwa aku tuh sebetulnya belum terlalu menguasai mat

QLC

Quarter Life Crisis (QLC) adalah sebuah keadaan sulit yang biasanya menimpa anak muda usia 20-an. Anak muda yang sedang mengalami QLC merasa galau akan kehidupannya. Mereka seperti kehilangan arah. Bingung harus melakukan apa. Bimbang harus melangkah ke mana. Dan takut kalau harus menghadapi kegagalan. Memangnya galau, bingung, bimbang, dan takut dalam hal apa? Dalam menatap masa depan. Dan aku—bisa dibilang—adalah salah satunya. Ya, sudah setahunan ini, aku merasakan QLC. Setahun lalu, saat baru awal-awal mengalami QLC, aku benar-benar galau, bingung, bimbang, dan takut dalam menatap masa depan. Sekarang sudah mendingan. Sudah agak adem. Sudah tidak se-galau, se-bingung, se-bimbang, dan se-takut itu lagi. QLC juga telah mengubah pandanganku akan suatu hal. Dulu, sebelum dihantam QLC, aku kira hidup ini gampang. Semenjak mengalami QLC, aku baru sadar, bahwa hidup ini keras. Dulu , kalau melihat kehidupan artis, influencer , dan penyanyi, aku mengatakan, “Enak ya jadi m

Problematika Sampah Plastik

Yang akan aku tulis di postingan blog kali ini adalah perihal plastik, lebih tepatnya plastik sekali pakai. Ketika membeli soto di warung makan, dan kita ingin memakannya di rumah saja, benda apakah yang dibutuhkan?  Tentu plastik . Gak cuma satu, tapi dua plastik. Pertama, plastik bening---di bagian dalam---untuk membungkus soto. Kedua, plastik kresek---di bagian luar---untuk memudahkan kita membawanya. Ketika di tengah perjalanan, udara panas, dan rasa haus melanda, refleks kita ingin mampir sejenak di Alfamart. Kita pun mencari air mineral dingin. Benda apakah yang membungkus air mineral itu---sehingga dapat dengan mudah kita bawa, lalu kita minum?  Betul. Botol plastik .  Sebegitu besar manfaat plastik, sehingga dari waktu ke waktu plastik terus diproduksi.  Bahkan, mungkin, semakin ke sini, jumlah produksi plastik semakin meningkat.  Tapi nih ya, untuk plastik sekali pakai kan cuma dipakai satu kali, habis itu dibuang *ya iyalah, anak TK juga tau 😂  Nah, kemudian jadi apa?  Yak b

Tentang Lahan

Melihat banyaknya lahan kebon, hutan, dan sawah yang sudah berganti menjadi bangunan.  Ada pertanyaan yang terlintas di benakku.  Kalau lama kelamaan, lahan-lahan tersebut habis gimana? Masihkah dunia baik-baik saja? Well , itu adalah pertanyaan sulit.  Gak tahu harus dijawab bagaimana.  Sebetulnya, hal ini kan sudah terjadi. Terutama di kota besar.  Dan, sebetulnya juga sudah ada solusi atas permasalahan tersebut. Yaitu, dengan adanya rumah susun, apartemen, dan kos-kosan, itu kan dalam rangka mengatasi keterbatasan lahan.  Tapi, sekarang hal ini sudah semakin merembet ke desa-desa.  Di desaku aja deh, kebon dan sawah semakin berkurang. Berganti menjadi bangunan.  Sebetulnya, again , pemerintah juga sudah berupaya mencegah supaya alih fungsi lahan ini tidak kebablasan. Yaitu, dengan cara menetapkan, mana yang menjadi kawasan lindung, dan mana yang menjadi kawasan budidaya. Intinya, kawasan lindung itu adalah kawasan yang keberadaannya dilindungi. Sebisa mungkin dibiarkan alami saja. T

Peragu

Pernahkah kamu ragu ketika akan mengambil keputusan?  Kalau aku, sering.  Ketika dihadapkan pada 2 pilihan yang harus aku pilih salah satu, aku sering bimbang.  Pilihan manakah yang harus aku ambil ? Aku takut kalau sampai salah dalam mengambil keputusan.  Aku sering bertanya-tanya, kapan aku harus mendengarkan omongan orang , dan kapan aku harus mendengarkan kata hati ?  Kapan aku harus mengatakan iya , dan kapan aku harus mengatakan tidak ?  Duh, pokoknya banyak banget kebimbanganku. Aku ini peraguuuu banget.  Dulu, aku merasa fine - fine aja dengan sifat peragu ini.  Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar kalau sifat peragu dibiarkan berlarut-larut, akan merugikan hidupku.  Karena, dalam hidup, akan ada banyak keputusan yang harus diambil segera.  So , aku harus belajar untuk mengambil keputusan dengan cepat. Perkara itu keputusan yang salah atau benar, dipikir nanti aja, deh.  Oke, sekian curhatan gak jelas ini. Bye .

Membakar Buku Diary

Tiga hari lalu, aku membuat sebuah keputusan yang cukup besar: membakar buku diary. Sebetulnya, sudah sejak lama aku ingin melakukannya. Tapi, dulu masih maju mundur antara iya, enggak, iya, enggak, iya, enggak, begitu terus.  Hingga akhirnya... tiga hari lalu, pada sore hari sebelum mandi, bulat sudah keputusanku untuk membakar buku diary.   Jadi, sore itu, aku mengendap-endap menuju kebun di belakang rumah. Kubakar buku diary-ku di situ, di antara tumpukan daun-daun kering. Aku lega sekali karena proses pembakaran berlangsung lancar. Tidak ada orang lain yang melihat. Sebab, kalau sampai aku ketangkap basah sedang membakar sesuatu, pasti aku bingung harus mengatakan apa. Ya kali aku bilang lagi bakar-bakar buku diary? Hehehe...  Kenapa sih, kok aku sampai berpikiran harus bakar diary-ku?  Jadi begini. Buku diary yang kubakar itu aku miliki sejak SMP. Dan sejak saat itu jugalah, diary tersebut aku isi beraneka ragam curhatan. Segala macam peristiwa dan permasalahan aku tulis di situ t

Curhatan Pemilik Kaki Kecil

Sebagai pemilik kaki kecil, aku sering kesulitan menemukan sepatu yang cocok. Bagaimana tidak, sepatu berukuran 36 yang konon merupakan ukuran sepatu terkecil untuk orang dewasa saja, masih sering kegedean di kakiku.  Padahal, tidak semua merk sepatu mengeluarkan ukuran 36.  Itu pun, tidak semua stok sepatu ukuran 36 masih ada di toko.  Itu pun, tidak semua sepatu ukuran 36 yang ada di toko pas untuk kakiku.  Itu pun (lagi), hanya sepatu ukuran 36 yang benar-benar kecil saja yang pas untuk kakiku.  Itulah kenapa, bagiku membeli sepatu adalah salah satu ujian hidup.   *** Pernah suatu ketika, aku harus membeli sepatu, karena sepatu yang lama udah rusak.  Aku pun mengunjungi salah satu toko sepatu. Semua sepatu wanita berukuran 36 kucoba, tapi gak ada yang pas, semuanya kegedean.  Lalu, aku tanya ke pelayan tokonya, apakah masih ada stok sepatu lain, atau, apakah ada sepatu dewasa ukuran 35?  Jawabannya sudah bisa ditebak = Gak ada! Pelayan tokonya hanya bisa melihatku dengan iba campur

Menunggu

Ngomongin tentang menunggu, tentu yang langsung terngiang di kepalaku adalah... Menunggu, sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku.  Saat ku harus bersabar dan terus bersabar.  Yap, itu adalah potongan lirik lagu Zivilia-Aishiteru yang hits pada waktu aku SMP. Ada bermacam-macam menunggu.   Ada menunggu yang menyenangkan . Di situasi ini, kita cenderung gak sabaran. Pengin supaya waktu berjalan lebih cepat. Misalnya, waktu membeli barang baru yang sudah lama kita idam-idamkan. Kita gak sabar untuk segera menyentuh barang itu. Kita membayangkan seperti apa kiranya barang itu. Lalu, ketika kita berhasil membelinya, kita akan menyentuhnya dengan lemah lembut. Ibaratnya, jangan sampai lecet barang setitik pun. Ada pula menunggu yang menggelisahkan . Biasanya, hal ini terjadi ketika kita merasa belum siap. Misalnya, kita adalah seorang siswa menunggu menghadapi ujian akhir sekolah. Rasanya belum siap. Rasanya belum belajar maksimal. Dan rasa belum-belum lainnya.  Ada juga menunggu yang mendeb

Ketika Satu Per Satu Teman Mulai Menikah…

Sekarang, pukul 01.49. Beberapa jam menjelang salat Idul Fitri dilangsungkan. Saya mengetik ini di kamar yang lampunya sudah saya matikan sedari tadi. Dengan diiringi letupan bunyi mercon beserta takbir yang berkumandang bersahut-sahutan, saya menulis ini. Tadi sore, saya mendengar kabar. Lagi dan lagi, mengenai seorang teman masa kecil saya yang sebentar lagi akan menikah. Begitu mendengar kabar itu, saya menarik napas panjang. Ada perasaan saya yang entah apa. Sulit dideskripsikan lewat kata-kata. Tidak, tidak. Saya tidak merasa tertinggal atau bagaimana. Saya hanya takjub dengan cepatnya sang waktu berlalu . Saya hanya belum bisa move on dari bayangan sosok teman saya itu ketika kecil dulu. Tidak menyangka saja. Seseorang, yang dulunya masih anak-anak itu, sebentar lagi akan menikah. Rupanya begini, ya, rasanya menjadi orang dewasa, yang menyaksikan satu per satu teman masa kecil mulai menikah. Sekali lagi, pokoknya rasanya itu sulit digambarkan dengan kata-kata. Piki

Seni Berpikir Rumit

Saya sering memperumit sesuatu yang sebenarnya sederhana. Ketika harus berhadapan dengan sesuatu yang baru, saya bisa kepikiran dari berhari-hari sebelumnya. Misalnya, saat akan bertemu orang baru, saya bingung harus ngomong apa. Saat akan menuju tempat yang belum pernah saya singgahi, rasa waswas terkait gimana kalau sampai nyasar, tidak terelakkan. Ketika bepergian ke mall, saya beberapa kali membuka tas hanya untuk memastikan bahwa dompet, handphone, kunci motor, dan karcis parkir saya gak hilang. Bahkan, ketika akan presentasi saat masih kuliah dulu, saya bingung, mata saya harus menatap ke mana dan posisi tangan saya harus bagaimana. Bayangkan! Hal-hal sepele begitu aja tidak luput dari pikiran saya. Orang lain mungkin akan heran. Kok hal-hal remeh temeh begitu aja dipertanyakan? Entahlah. Saya terlalu sibuk membayangkan skenario terburuk. Saking saya takut tertimpa hal buruk, saya akan mempersiapkan segala sesuatunya, misalnya dengan cara mencari tutorial dan

Kok Kamu Udah Gedhe Banget, Sih?

Dulu, saya sering mendengar kalimat itu. Umumnya, yang ngomong begitu adalah orang yang usianya jauh lebih tua dari saya, misalnya om, tante, nenek, dan kakek. Kalimat itu biasanya ditujukan kepada saya, di acara keluarga, hajatan, dan lebaran. Mereka ngomong begitu kepada saya, setelah sekian lama tidak melihat saya, dan baru ketemu saya lagi pada hari itu. Jujur, saya heran dengan hal itu. Batin saya, “Kenapa sih, kok orang-orang tua itu kayak heran banget liat aku? Perasaan, aku biasa aja, deh.” Lambat laun, saya mulai paham. Bahwa, keheranan orang-orang itu terjadi karena pangling . Bagaimana tidak? Katakanlah, mereka itu kan, mengenal saya dari bayi baru lahir. Mereka masih terbayang-bayang, bagaimana rupa saya ketika masih anak-anak. Setelah sekian lama, saya sudah dewasa. Mereka takjub. Mereka heran, betapa cepat waktu berlalu. Mereka tidak menyangka, saya sudah besar. Dan, setelah menginjak usia 20 tahunan, saya pun perlahan-lahan menjadi seperti orang-orang tua itu. Saya,

Kok Kamu Betah di Rumah Terus?

Saya sering ditanyai, "Kok kamu betah di rumah terus?" Jika sudah begini, saya jawab, "Iya, aku lebih suka di dalam rumah aja." Tapi, seringkali, si penanya masih belum puas. Terlihat dari ekspresi heran mereka. Dan saya hanya tersenyum irit, karena malas meladeni dan "berdebat" panjang lebar. Dari kecil hingga dewasa, saya memang sangat menikmati momen-momen di rumah. Saya sangat betah berlama-lama di rumah. Jarang keluar, kecuali untuk urusan beli bensin, pulsa, dan sembako. Saya sempat bertanya-tanya, "Apakah ada yang salah denganku?" Sebab, mayoritas orang yang saya kenal, lebih suka keluar rumah. Bahkan, mereka terkesan tidak kerasan tinggal di rumah. Sedangkan saya? Berkebalikan dari mereka. Saya pun waswas, jangan-jangan, saya mengidap kelainan. Sebab saya tampak beda sendiri. ***  Ketika tahun baru misalnya, saya selalu di rumah saja. Percaya atau tidak, saya belum pernah main mercon atau kembang api, lho. Untuk tahun baruan, saat masih T

Susah Konsentrasi Selama Pandemi

Sebelum pandemi menyerang, berkonsentrasi bukan hal sulit bagi saya walaupun aktivitas di luar rumah sedang padat. Saya tinggal menyisihkan waktu, duduk rileks dan fokus, maka pikiran sudah terkonsentrasi pada hal yang ingin dituju. Namun, semua berubah setelah pandemi terjadi. Kebetulan, pandemi bertepatan dengan kelulusan saya. Ya, saya adalah seorang Sarjana Jalur Corona . Saya punya banyak waktu luang di rumah. Tapi untuk bisa fokus melakukan aktivitas itu susahnya luar biasa. Ada saja godaannya. Beginilah saya semenjak pandemi ini: Baru 5 menit belajar, tangan gatal untuk scrolling sosial media. Baru 10 menit menulis, tubuh sudah lemas ingin rebahan. Dan, baru 15 menit membaca, langsung gagal fokus saat mendengar celoteh keponakan yang sedang lucu-lucunya (btw kami tinggal serumah). Entah kenapa, saya selalu refleks memanjakan diri, padahal seharian tidak melakukan aktivitas berat. Ini sudah terjadi selama 8 bulan. Jangka waktu yang tidak sebentar. Seharusnya sudah cukup

Diam itu (Belum Tentu) Emas?

Sebagai seorang introvert kebablasan, saya sering negative thinking kalau harus menghadiri acara kumpul-kumpul. Baik itu pertemuan keluarga besar, reuni sekolah, buka puasa bersama, first gathering , dst.  Berbagai pertanyaan menghinggapi kepala.  Apa yang harus saya lakukan di acara tersebut? Bagaimana saya harus mengatur gerak-gerik? Apa yang harus saya katakan pada orang-orang yang baru pertama kali saya temui nanti? Selama ini, saya sering berupaya membolos dari kegiatan-kegiatan itu. Bila ada orang yang mengajak secara langsung, tak jarang saya hanya menjawab, “Aku belum bisa memastikan bisa datang atau tidak.”  Padahal, saya tahu, ujung-ujungnya saya tidak hadir. Mayoritas ketidakhadiran itu bukan karena saya tidak bisa, melainkan karena tidak mau. Orang yang mengundang atau mengajak kumpul-kumpul, sebenarnya sudah tahu bahwa pada akhirnya, kemungkinan saya hadir itu kecil. Mereka tahu bahwa jawaban saya yang “belum bisa memastikan” itu adalah penolakan halus. Jadi, kalau samp

Ingin Tips Mudah Menurunkan Berat Badan? Saya Malah Sebaliknya

Kalau sebagian besar orang mencari Tips Menurunkan Berat Badan dengan Instan, saya malah ingin menambah berat badan.  Kenapa?  Karena badan saya kurus kering. Bagi orang lain, tubuh kurus itu lebih bagus. Nyatanya, terlalu kurus juga tidak bagus. Saya sering risih ketika bercermin. Tubuh terlalu kurus tampak tidak proporsional dengan baju model apa pun dan ukuran seberapa pun. Tidak hanya masalah berat badan, tapi juga tinggi badan. Tinggi badan saya yang tergolong minimalis ini juga sempat membuat saya minder.  Waktu masih sekolah, saya pernah membeli susu yang katanya bisa meninggikan badan dalam waktu singkat. Tapi, setelah susu itu habis tinggi badan saya tidak bertambah secara signifikan. *** Berikut keresahan-keresahan yang berkaitan dengan keminimalisan tubuh saya. Menjabat sebagai si Mungil Tubuh mungil saya sepaket dengan profil wajah yang tampak bocah banget. Bibir kelewat tipis, alis pendek, dan hidung pesek adalah perpaduan sempurna yang menambah kesan kecil.  Waktu k

Diary Sarjana Jalur Corona

Aku adalah sarjana jalur corona. Sebenarnya, gak juga sih. Aku sidang skripsi di awal Maret 2020. Waktu itu, corona sudah mulai terdengar beritanya. Tapi belum heboh. Aku masih bisa melangsungkan ujian skripsi dengan datang langsung ke kampus. Masih bertemu langsung dengan dosen pembimbing dan penguji. Masih bertegur sapa dengan teman-teman seangkatan. Sekitar 2 minggu setelahnya, tiba-tiba kabar corona santer terdengar. Instruksi meliburkan sekolah dan kampus langsung keluar. Akhirnya, aku harus revisi skripsi via online. Konsultasi revisi skripsi lewat WhatsApp dan E-mail. Semua ada plus minusnya. Plusnya, aku yang malas gerak ini gak perlu repot-repot naik motor ke kampus. Minusnya, komunikasi dengan dosen agak tersendat. Tapi, syukurlah semuanya teratasi. Wisudanya di bulan Mei 2020. Gak ada wisuda online. Cuma ada pengambilan ijazah di bagian akademik fakultas. Jujur, aku malah lebih senang dengan sistem ini. Aku bukan tipikal orang yang maniak acara atau maniak foto. Jadi, ak